Penting, Komunikasi dan Informasi Desa!


Perkembangan teknologi membuat akses masyarakat terhadap layanan semakin mudah. Telekomunikasipun turut mendorong gerak roda perekonomian di tanah air. Sayang, sarana dan layanan telekomunikasi ini belum bisa tersedia secara adil dan merata.

Hingga kini, pengembangan dan pembangunan sarana telekomunikasi masih terkonsentrasi di kota besar dan wilayah yang dinilai potensial oleh operator penyedia. Lihat saja, 31 ribu desa sampai sekarang belum memiliki akses telekomunikasi.

Padahala layanan telekomunikasi suara maupun data tak hanya diperlukan masyarakat perkotaan tetapi juga pedesaan. Keterjangkauan komunikasi akan sangat membantu percepatan akses informasi yang bisa menunjang berbagai sektor yang selama ini tersendat semisal transaksi ekonomi antar masyarakat.

Dengan adanya akses informasi, maka kegiatan perekonomian di daerah-daerah terpencil akan memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dan keterbukaan bisnis.

Tak mengherankan infrastruktur telekomunikasi yang bisa menjangkau desa tertinggal menjadi satu hal yang penting. Selain menjadi fasilitator yang mampu mendorong laju perekonomian, pada akhirnya membantu menanggulangi pengentasan kemiskinan yang memang terkonsentrasi di pedesaan.

Keinginan mempercepat terbukanya akses informasi dan penyediaan jasa akses telekomunikasi sebenarnya untuk mengatasi digital divide. Dengan aksesibilitas bagi setiap orang sampai ke pelosok yang terjauh, telekomunikasi bisa menjadi infrastruktur kunci pertumbuhan ekonomi.

Sayang, kebanyakan operator telekomunikasi masih lebih berorientasi pada proyek dan keuntungan.Umumnya masih belum begitu peduli dengan kontinuitas dan perkembangan penyediaan pelayanan telekomunikasi khususnya di pedesaan.

Lebih jauh menurut penelitian Center for Knowledge Societies (CKS) di Bangladesh, India, Indonesia, Filipina, dan Vietnam selama kurun waktu Mei dan Juni 2008 terungkap besarnya pasar telekomunikasi di kawasan pedesaan sebagian besar Asia Selatan dan Tenggara mencapai antara 50 persen hingga 70 persen dari total populasi.

Disebutkan pula bahwa strategi tepat bisa membuat operator menstimulus pertumbuhan ekonomi di pedesaan berbasis telekomunikasi. Sejumlah risetpun menyatakan penetrasi pelayanan bergerak sebesar 10 persen akan meningkatkan PDB sebesar 1,2 persen.

Dalam mendukung penetrasi telekomunikasi di pedesaan pemerintahpun sebenarnya sudah menggagas USO sejak 2005 namun baru terealisasi tahun ini. Program ini sejatinya pola subsidi silang supaya penyelenggara infrastruktur telekomunikasi tidak hanya mengambil keuntungan tapi ikut bertanggungjawab.

Namun disisi lain, operator telekomunikasi ternyata masih enggan menggarap pasar pedesaan. Nilai komersialnya yang rendah menjadi salah satu faktor yang membuat operator lambat melakukan penetrasi ke wilayah tersebut.

Alhasil, dalam membangun sarana telekomunikasi ke pedesaan, operator kerap melempar banyak alasan. Semisal permasalahan infrastruktur dasar yang cenderung minim, ketersediaan listrik dan jalur transportasi.

Belakangan pemerintah berani menjamin seluruh desa di Indonesia bakal terjangkau jaringan telekomunikasi pada akhir 2009. Menkominfo mengklaim paling lambat awal 2010 semua masyarakat pedesaan termasuk desa terpencil sekalipun sudah bisa menikmati jaringan telekomunikasi bahkan internet.

Sebagai catatan, untuk menyediakan jaringan (penyambungan) akses telekomunikasi dan internet untuk pedesaan tersebut pemerintah mengaku menyediakan anggaran sekitar Rp. 2 triliun di 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: